Khamis, 3 Disember 2009

Muhasabah rumahtangga kita


Menghadapi suatu rutin dalam waktu yang panjang membuat hati manusia itu menjadi lelah. Hal ini munkin dialami oleh seorang muslimah yang bergelar isteri, seorang ibu rumah tangga, seorang pendidik anak. Bagaimana menyerap kelelahan tersebut ?

Rasa lelah, siapapun mungkin pernah mengalaminya. Apakah itu lelah dalam berjalan jauh, bekerja, belajar, sampai lelah dalam men-jalankan tugas dalam rumah tangga.

Rumah tangga dapat dikatakan sebagai organisasi terkecil. Dalam rumah tangga, seorang suami mempunyai kedudukan sebagai qawwam (pemimpin). Dialah yang memegang kendali semua fungsi pengurusan dalam rumah tangga-nya. Seberapa tinggi tingkat produktiviti orang-orang yang dipimpinnya, tergantung dari seberapa bijak seorang suami dalam memotivasi mereka.

Motivasi utama setiap muslim adalah bekerja untuk mencari ridha Allah swt. Termasuk didalamnya kerja dalam sebuah rumah tangga Islam. Kerja suami untuk mencari nafkah adalah sarana baginya untuk mencapai ridha Allah. Demikian pula kerja isteri dirumah dalam membina rumah tangga dan mendidik anak-anak. Semuanya itu tidak lain adalah sarana bagi seorang isteri untuk mencapai ridha Allah.

Namun tidak jarang terjadi, kelelahan fizikal dalam melakukan tugas rumah tangga, menurunnya tahap iman dapat membuat seorang isteri lupa akan komitmennya semula, mencari ridha Allah. Disini-lah suami diharapkan peka dan berperanan dalam mengatasi kesenja-ngan komitmen tersebut.

Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ... (QS. 66:6 )

Keterbukaan antara suami dan isteri adalah hal yang sangat penting. Dengan keterbukaan, berbagai masalah yang ada dapat dikesan secara awal. Salah satunya yaitu dengan membicarakan masalah yang tengah dirasakan masing-masing. Hal yang dapat dilakukan suami dalam mengembalikan motivasi isterinya antara lain menasihatinya dengan kata-kata yang lembut, mengingatkannya dengan ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasulullah.

Disamping itu suami juga diharapkan menyempatkan waktu untuk mendengarkan keluhan isteri serta masalahnya, bahkan jika mungkin membantu meringankan pekerjaannya, atau tidak menambah beban kerjanya.

Peneguhan adalah salah satu cara memotivasi yang penting, tapi sering dilupakan. Inti dari rein-forcement ini adalah penghargaan terhadap hasil kerja

Dalam mendidik para sahabat dan isteri-isteri beliau, Rasulullah selalu memberikan berita gembira sebagai penguatan positif dengan ayat-ayat Allah. Salah satu contoh berita gembira dalam Al-Quran adalah firman Allah : „Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. 16:97)

Ungkapan rasa terima kasih atas layanan isteri, hadiah kecil yang bermanfaat adalah contoh reinforcement suami untuk isterinya. Pada asasnya suami meyakin-kan isterinya, bahwa apa yang dikerjakannya dirumah adalah sangat membantu kerjanya dan bukanlah sesuatu yang sia-sia, tetapi ada balasan yang lebih baik dari Allah kelak. Rasulullah saw sendiri memberi contoh bagaimana beliau memuji isterinya Khadijjah ra atas dukungannya terhadap Rasulullah.

Setiap muslim hendaknya selalu ingat, bahwa ketenangan hati sangat menentukan hasil kerja. Suami sebagai manager rumah tangga Islam diharapkan mampu memantau rasahati isteri yang akan menentukan kualiti kerjanya. Kasih sayang dan kebijaksanaan suami adalah sentuhan yang dapat mengantarkan seorang isteri untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Dan itu berarti prestasi suami sebagai penjaga keluarga dari api neraka akan dicatat dengan indah. Insya Allah.

Artikel: Ust. Ruslan

Ahad, 1 November 2009

30 kaedah mendidik anak

Apabila telah tampak tanda-tanda mumayyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian serius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya turut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga turutmemikul dosa karenanya.

Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai sebahagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kaedah dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:

  1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua). Kemudian cegahlah ia dari memandang makanan dan orang yang sedang makan.

  2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

  3. Hendaklah anak itu dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam bab makanan (harus memberi lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kebiasaan bermewah-mewah dan membazir dengan makanan. Juga perlu diajarkan agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya mementingkan perut saja.

  4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sukar bagi dia melepaskannya.

  5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaum wanita.

  6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai menjadi kebiasaan mereka dengan hal-hal ini.

  7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka boleh jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang buruk akan berpengaruh bagi anak. Boleh jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

  8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur’an dan buku-buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur’an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi dan juga pelajaran fiqh dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan menela-dani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan fahaman yang menyimpang dari Islam seperti Mu’tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid’ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
  9. Dia harus dijauhkan dari lagu-lagu dan syair-syair cinta dan hanya sekadar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merosakkan hati dan jiwa.

  10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan menghafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

  11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia-kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.

  12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.

  13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam berkomunikasi dengan anak. Jangan memburuk-burukkan anak atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.

  14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktiviti tertentu, sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya tubuh badan.

  15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

  16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.

  17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.
  18. Jangan biarkan anak terbiasa pangku kaki, tergesa-gesa dan bercekak pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

  19. Melarangnya dari membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu’, lemah lembut dan menghormati temannya.

  20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

  21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.

  22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang hingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.

  23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.

  24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.

  25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

  26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.

  27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam situasi kesulitan. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

  28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.
  29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-perintah.

  30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustaz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan seboleh mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa Mumaiyyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Huraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan. Wallahu a’lam.

Dari mathwiyat Darul Qasim “tsalasun wasilah li ta’dib al abna’’” asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah . [Ubaidillah Masyhadi]

Sumber: Artikel Ust Ruslan

Rabu, 16 September 2009

Panduan kepada yang bakal menerima cahaya mata - Bhgn 3.

FIQH AQIQAH

Pengertian Aqiqah

Al-‘Aqiqah berasal dari perkataan al-‘Aq (العقّ) yang bermaksud al-Qat’u (القطع) iaitu memotong. Aqiqah pada asalnya ialah rambut yang berada di kepala bayi ketika dilahirkan dan dinamakan kambing yang disembelih untuk bayi sebagai aqiqah adalah kerana rambut tersebut dicukur ketika sembelihan itu dilakukan. Kerana itu Rasulullah s.a.w. bersabda dalam hadis;

الغلام مرتهن بعقيقته: فأهريقوا عنه الدم، وأميطوا عنه الأذى
“Anak kecil itu dipertaruhkan dengan aqiqahnya[1], maka tumpahkanlah darah untuknya (yakni lalukanlah aqiqah untuknya) dan singkirkanlah kotoran darinya”. (Riwayat Imam al-Baihaqi dari Salman bin ‘Amir r.a.)

Yang dimaksudkan dengan kotoran (الأذي) dalam hadis ini ialah rambut yang dicukur dari anak kecil tersebut.[2]

Adapun dari sudut Syara’, Aqiqah bermaksud; binatang yang disembelih untuk bayi yang dilahirkan.[3] Disunatkan memanggilnya dengan nama nasikah (نسيكة) atau zabihah (ذبيحة).[4]

Dalil pensyari’atan aqiqah ialah hadis Buraidah r.a. yang menceritakan;

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melakukan aqidah untuk Hasan dan Husin”. (Riwayat Imam an-Nasai)

Hukum Aqiqah

Aqiqah hukumnya adalah sunat muakkad.[5] Dalil sunatnya aqiqah ini ialah hadis yang diriwayatkan oleh Salman bin ‘Amir r.a. tadi.[6]

Melakukan aqiqah tidaklah wajib kerana Abdurrahman bin Abi Sa’id meriwayatkan dari bapanya yang menceritakan bahawa Nabi s.a.w. ditanya berkenaan dengan aqiqah? Lalu baginda bersabda;

لا أحب العقوق ومن ولد له ولد فأحب أن ينسك له فليفعل
“Aku tidak al-‘Aquq.[7] Sesiapa yang memperolehi anak kecil, lalu ia suka untuk menyembelih (aqiqah) untuknya, maka lakukanlah”. (Riwayat Imam Abu Daud).

Dalam hadis di atas Rasulullah mengikat sembelihan aqiqah tersebut dengan “ia suka”. Maka ini menunjukkan bahawa aqiqah tidak wajib. Selain itu, aqiqah adalah darah yang ditumpahkan (yakni sembelihan yang dilakukan) tanpa disebabkan oleh sebarang jenayah dan juga nazar, maka oleh itu ia tidaklah wajib sebagaimana korban.[8]

Siapa yang dituntut melakukan aqiqah?

Orang yang disunatkan melakukan aqiqah bagi seorang bayi ialah orang yang berkewajipan menanggung nafkahnya. Kerana itu, harga aqiqah dibebankan kepadanya, bukan kepada bayi. Jika ia melakukan aqiqah dengan mengambil dari harta/wang bayi, maka wajib diganti. Ini kerana aqiqah itu tergolong dalam tabarru’ (derma) dan ditegah wali/penjaga melakukan tabarru’ (derma) dengan harta anak di bawah jagaannya. [9]

Disunatkan mengaqiqahi anak apabila mampu. Ukuran kemampuan ialah sebelum tamat tempoh nifas yang terpanjang bagi ibu yang melahirkan bayi tersebut. Jadi, jika seorang wali/penjaga yang menanggung nafkah bayi tidak ada kemampuan untuk melakukan aqiqah semasa anak dilahirkan, namun jika sebelum tamat tempoh nifas terpanjang itu ia mendapat kesenangan dan mampu melakukan aqiqah, maka sunat aqiqah itu masih dituntut ke atasnya.[10] Namun jika sepanjang tempoh nifas tersebut ia masih susah (yakni masih tidak mampu), maka gugurlah tuntutan aqiqah itu darinya.[11]

Menurut Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari; jika ayah dari anak yang lahir dalam keadaan tidak mampu, maka sunat bagi datuknya yang mampu melaksanakan aqiqah cucunya sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w. ke atas cucunya Hasan dan Husin kerana yang memberikan nafkah kepada keduanya adalah Rasulullah kerana orang tuanya tidak mampu….[12]

Ibu tidak sunat mengaqiqahi anaknya kecuali apabila ayah tidak mampu. Anak zina yang wajib memberi nafkahnya adalah ibunya, maka sunat bagi ibu mengaqiqahi anaknya. Ini adalah Ibnu Hajar dan Syeikh Ramli. Adapun Syeikh Khatib Syarbini berpendapat; tidak sunat bagi ibu mengaqiqahi anak yang dilahirkan kerana zina sekalipun ia wajib menaggung nafkahnya kerana melaksanakan aqiqah akan menambah malu kepada anak itu.[13]

Binatang yang sunat diaqiqahkan

Terhasil sunat aqiqah apabila wali menyembelih untuk anaknya seekor kambing sama ada anak itu lelaki atau perempuan.[14] Terdapat riwayat di mana Saidina Ali menceritakan;

عقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسَلَّم عن الحسنِ بشاةٍ وقال يا فاطمةُ احلقي رأسهُ وتصدَّقي بزنِةِ شعرهِ فضَّةً فوزنتهُ فكانَ وزنهُ درهما أو بعضَ درهمٍ
“Rasulullah s.a.w. melakukan aqiqah bagi Hasan dengan seekor kambing dan baginda berkata kepada Fatimah; ‘Cukurlah rambutnya, kemudian sedekahkanlah seberat timbangan rambutnya itu perak’. Ali berkata; Lalu aku menimbangnya, maka beratnya ialah satu dirham atau beberapa dirham”. (Riwayat Imam at-Tirmizi)

Begitu juga, riwayat dari Ibnu ‘Abbas r.a. yang menceritakan;

أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عقَّ عن الحسن والحسين -رضي الله عنهما- كبشاً كبشاً
“Rasulullah melakukan aqiqah bagi Hasan dan Husin dengan (menyembelih) seekor kibas (untuk Hasan) dan seekor kibas lagi (untuk Husin)”. (Riwayat Imam Abu Daud)

Namun yang afdhal (yakni yang paling baik) bagi anak lelaki ialah dua ekor kambing. Ini berdasarkan riwayat Ummu Kurzin yang menceritakan; “Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda (berkenaan Aqiqah);

عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاةٌ
“Bagi anak lelaki dua ekor kambing yang sekufu dan bagi anak perempuan seekor kambing”. (Riwayat Abu Daud)

Sembelihan aqiqah disyari’atkan untuk menzahirkan kegembiraan terhadap kelahiran anak dan kegembiraan dengan lahirnya anak lelaki biasanya lebih besar, oleh itu sembelihan juga digalakkan lebih banyak dari kepada anak perempuan.[15]

Apakah harus beraqiqah dengan unta dan lembu? Jawapannya adalah harus di mana 1/7 bahagian unta atau lembu menyamai seekor kambing. Oleh itu, seekor unta atau lembu boleh dijadikan aqiqah untuk tujuh orang anak. Dan harus seorang yang ingin melakukan aqiqah berkongsi lembu atau unta dengan orang lain yang tidak berniat melakukan aqiqah seperti ia mengingini 1/7 atau 2/7 dari bahagian unta/lembu itu untuk aqiqah dan adapun bahagian selebihnya diingini oleh orang lain untuk dagingnya sahaja. Hukum ini sama sebagaimana yang disentuh dalam bab Korban terdahulu.[16]

Seekor kambing atau 1/7 bahagian lembu/unta hanya bagi seorang anak sahaja. Oleh demikian, jika seorang itu dilahirkan dua orang anak untuknya, kemudian ia hanya menyembelih seekor kambing sahaja untuk mereka berdua, tidak terhasil ibadah aqiqah untuknya. Ini termasuklah jika dua anak itu adalah anak kembarnya. Kesimpulannya, aqiqah hendaklah dilakukan mengikut bilangan anak. Bagi seorang anak seekor kambing. Jika dua orang, maka dua ekor kambing dan begitulah seterusnya. Hukum ini adalah berdasarkan hadis riwayat Ibnu ‘Abbas tadi yang menceritakan; “Rasulullah melakukan aqiqah bagi Hasan dan Husin dengan (menyembelih) seekor kibas (untuk Hasan) dan seekor kibas lagi (untuk Husin)”.

Syarat-syarat binatang yang hendak diaqiqahkan

Hukum aqiqah sama seperti hukum korban iaitu sunat muakkad. Oleh itu, syarat binatang aqiqah sama seperti yang disyaratkan untuk ibadah korban dari segi jenisnya, umurnya dan bebasnya dari kecacatan yang menyebabkan kurang daging.[17] Begitu juga, ia menjadi wajib apabila dinazar atau ditentukan.[18] Sila rujuk huraian terperinci mengenainya dalam tajuk korban yang lalu.

Masa aqiqah[19]

Bermula masa/waktu melakukan aqiqah ialah apabila bayi telah sempurna lahir dari perut ibunya. Maka jika dilakukan sembelihan sebelum bayi lahir dengan sempurna, tidak dikira sebagai aqiqah. Ia hanya menjadi sembelihan untuk daging dan tidak akan mendapat sunat aqiqah.

Waktu aqiqah itu berterusan hinggalah bayi yang dilahirkan itu sampai umur baligh.[20] Apabila ia telah baligh, gugurlah tuntutan aqiqah dari penjaganya (seperti bapanya atau sebagainya) jika belum melaksanakannya. Namun digalakkan orang yang tidak diaqiqahkan sebelum balighnya melakukan sendiri aqiqahnya.

Walaupun harus dilakukan aqiqah sebaik saja bayi sempurna lahir, namun disunatkan ia dilakukan pada hari yang ketujuh kelahirannya bersama dengan memberi nama dan mencukur kepala yang juga disunatkan pada hari tersebut. Ini berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.;

كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ. تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى
“Setiap anak kecil (bayi) dipertaruhkan dengan aqiqahnya; disembelih untuknya pada hari ke tujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama”. (Riwayat Imam Ibnu Majah dari Samurah r.a.)

Begitu juga, Saidatina Aisyah r.a. menceritakan;

عق رسول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- عن الحسن والحسين يوم السابع، وسماهما، وأمر أن يماط عن رؤوسهما الأذى
“Rasulullah s.a.w. melakukan aqiqah untuk Hasan dan Husin pada hari ketujuh, baginda memberi nama kepada mereka berdua dan baginda menyuruh supaya dibuang kekotoran dari kepala mereka berdua”. (Riwayat Imam al-Baihaqi dan al-Hakim dengan sanad yang baik menurut Imam Nawawi)[21]

Adakah hari ketujuh itu dikira dari hari lahir atau hari berikutnya? Menurut pandangan yang rajih dalam mazhab Syafi’ie; hari lahir adalah terhitung sebagai hari pertama. Ini bermakna hari ketujuh dikira bermula dari hari lahir, bukan dari hari selepasnya. Namun jika bayi dilahirkan pada waktu malam, dihitung hari berikutnya sebagai hari pertama.

Jika tidak dapat disembelih pada hari ketujuh, disunatkan menyembelih pada hari ke 14 (iaitu seminggu selepasnya). Jika tidak dapat pada hari ke 14, disunatkan pada hari ke 21 dan begitulah seterusnya (seminggu demi seminggu) hinggalah kepada umur baligh. Jika selepas baligh belum juga bayi diaqiqahkan, tidak dituntut lagi sunat aqiqah itu dari wali/penjaganya, akan tetapi digalakkan ia sendiri yang melakukan aqiqah untuk dirinya.[22]

Jika bayi ditakdirkan mati selepas dilahirkan, apakah sunat juga diaqiqahkan? Ya, sunat dilakukan juga aqiqah bagi bayi yang mati sama ada mati sebelum hari yang ke tujuh atau selepasnya dengan syarat bapa/penjaga telah berpeluang melakukan aqiqah ketika berlakunya kematian bayinya (yakni ada kemampuan untuk melakukan aqiqah, namun ditangguhnya hinggalah ke saat bayinya mati).[23]

Menyembelih dan melapah binatang aqiqah

Disyaratkan orang yang beraqiqah meniatkan ketika melakukan sembelihan bahawa binatang yang disembelihnya itu adalah aqiqah. Ini sebagaimana yang disyaratkan dalam korban.[24]

Disunatkan sembelihan aqiqah dilakukan pada awal hari (yakni waktu pagi).[25] Menurut Syeikh Taqiyyuddin Abu Bakar al-Husni; disunatkan menyembelihnya ketika terbit matahari.[26] Ketika menyembelih disunatkan membaca Bismillah, bertakbir dan melafazkan;

اللهم لك وإليك، هذه عقيقة _____
“Ya Allah, untukMu dan kepadaMu. Inilah aqiqah untuk _______ (sebutkan nama bayi yang diaqiqahkan untuknya)”.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Saidatina Aisyah r.a. yang menceritakan;

أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين وقال: قولوا بسم الله والله أكبر، اللهم لك وإليك، هذه عقيقة فلان
“Sesungguhnya Nabi s.a.w. melakukan aqiqah untuk Hasan dan Husin dan baginda bersabda; kamu ucapkanlah (ketika menyembelih aqiqah kamu);

بسم الله والله أكبر، اللهم لك وإليك، هذه عقيقة فلان
“Dengan nama Allah. Allah Tuhan Yang Maha Besar. Ya Allah, untukMu dan kepadaMu. Inilah aqiqah fulan_____”.
(Riwayat Imam al-Baihaqi dengan sanad yang hasan)[27]

Ketika melapah daging aqiqah, disunatkan tidak mematah atau memecahkan tulang-tulangnya, akan tetapi memotong atau memisahkan tulang-tulang dari sendi-sendinya. Ini sebagai bertafaul (yakni menaruh harapan yang baik) bagi keselamatan anggota-anggota bayi yang dilahirkan itu.[28]

Penggunaan/Pengagihan daging aqiqah

Di sisi ulama’-ulama’ mazhab Syafi’ie –sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi-; hukum aqiqah dalam masalah bersedekah dengannya, memakannya, memberi hadiah, menyimpannya, kadar yang dimakan dan tegahan menjualnya sama sebagaimana yang disebutkan dalam bab korban, tidak ada perbezaan.[29] Jadi pengagihan daging aqiqah sunat merangkumi tiga iaitu; dimakan oleh orang yang melakukan aqiqah dan keluarganya, disedekahkan kepada fakir miskin dan dihadiahkan kepada jiran atau sahabat-handai.[30]

Namun demikian, di sana ada sedikit perbezaan dalam cara pengagihan daging aqiqah dan daging korban. Daging aqiqah sunat dimasak[31] iaitu disedekahkan (atau dihadiahkan) dalam keadaan telah dimasak, bukan dalam keadaan mentah sebagaimana dalam korban. Masakan pula disunatkan yang manis sebagai bertafaul (yakni menaruh harapan baik) agar bayi yang dilahirkan itu akan manis/elok akhlaknya. Harus sama ada hendak menghantar daging yang dimasak itu ke rumah fakir miskin atau menjemput mereka memakannya di rumah. Namun menghantar masakan kepada mereka lebih afdhal dari memanggil/menjemput mereka ke rumah.[32]

Namun dikecualikan dari dimasak itu kaki binatang korban[33] di mana ia sunat diberikan kepada bidan yang menyambut bayi (القابلة) dalam keadaan mentah (yakni sebelum dimasak).[34] Diriwayatkan dari Saidina Ali r.a. yang menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. telah menyuruh Fatimah r.a. di mana baginda bersabda;

زني شعر الحسين، وتصدقي بوزنه فضة، وأعطي القابلة رجل العقيقة
“Timbanglah rambut Husin dan bersedekahlah seberat timbangannya akan perak. Dan kamu berilah kepada bidan yang menyambutnya akan kaki binatang aqiqah”. (Riwayat Imam al-Baihaqi dan al-Hakim/al-Jami’ as-Saghir, hadis no. 4567. Menurut Imam as-Suyuti; hadis ini soheh).

***والله أعلم بالصواب***

Panduan kepada yang bakal menerima cahaya mata - Bhgn 2.

PANDUAN MEMBERI NAMA ANAK

Disunatkan memberi nama kepada bayi pada hari ketujuh kelahirannya sebagaimana yang terdapat dalam sabda Nabi s.a.w.;[1]

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَةٍ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
“Setiap anak kecil (bayi) dipertaruhkan dengan suatu aqiqah; disembelih untuknya pada hari ke tujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama”. (Riwayat Imam Abu Daud, Tirmizi, an-Nasai dan Ibnu Majah dari Hasan r.a. dari Samurah bin Jundub r.a.)[2]

Namun terdapat juga hadis-hadis yang menceritakan bahawa Nabi s.a.w. pernah memberi nama kepada bayi pada hari dilahirkan. Antaranya ialah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. yang menceritakan;

وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَسَمَّاهُ: إِبْرَاهِيمَ، وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ
“Telah dilahirkan untukku seorang anak, lalu aku membawanya kepada Nabbi s.a.w., maka baginda menamakannya Ibrahim dan baginda mentahniknya dengan sebiji buah tamar serta baginda mendoakan keberkatan untuknya”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Jadi, yang menjadi sunnah dalam menamakan bayi ini ialah menamakannya pada hari ketujuh atau pada hari ia dilahirkan. Ini ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam al-Azkar; “Yang menjadi sunnah ialah menamakan bayi pada hari ketujuh dari hari kelahirannya atau menamakannya pada hari kelahirannya”.[3] Walau bagaimanapun, Imam Bukhari telah bertindak menghimpunkan antara dua sunnah ini dengan menjelas; “Hadis-hadis yang menyebutkan hari kelahiran dimengertikan bagi orang yang tidak berniat melakukan aqiqah[4], dan adapun hadis-hadis yang menyebutkan hari ketujuh maka dimengertikan bagi orang yang ingin melakukan aqiqah bagi anaknya[5]”.[6]

Jika bayi yang dilahirkan ditakdirkan mati sebelum diberi nama, disunatkan juga diberi nama kepadanya. Begitu juga, sunat memberi nama anak yang gugur.[7]

Dalam masalah meletakkan nama ini, hendaklah diberi perhatian perkara-perkara berikut;[8]

a) Disunatkan memberi nama-nama yang elok dan baik kerana Nabi s.a.w. bersabda;

إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ
“Sesungguhnya kamu sekelian akan diseur/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapa kamu. Oleh demikian, elokkanlah nama-nama kamu”. (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)

b) Nama yang paling baik/paling elok ialah Abdullah dan Abdurrahman sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w.;

إنَّ أحَبَّ أسْمائكُمْ إلى اللّه عَزَّ وَجَلَّ عَبْدُ اللّه، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
“Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah dari nama-nama kamu ialah Abdullah dan Abdurrahman”. (Riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar r.a.)

c) Harus memberi nama sempena nama para Nabi seperti Ibrahim, Hud, Soleh, Muhammad dan sebagainya.

Sabda Rasulullah s.a.w.;

تَسَمَّوا بأسْماءِ الأنْبِياءِ، وَأحَبُّ الأسْماءِ إلى اللّه تَعالى عَبْدُ اللّه وَعَبْدُ الرَّحْمَن، وأصْدَقُها: حَارِثٌ وَهمَّامٌ، وأقْبَحُها: حَرْبٌ وَمُرَّةُ
“Berilah[9] nama dengan nama-nama para Nabi. Nama yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling tepat (dengan hakikat manusia) ialah Harith dan Hammam, dan nama yang paling buruk ialah Harb dan Murrah”. (Riwayat Abu Daud, an-Nasai dan lain-lain dari Abi Wahb al-Jusyami r.a.)

Jabir bin Abdullah r.a. menceritakan; “Seorang lelaki dari kalangan kami baru memperolehi anak dan ia memberi nama anak itu ‘Muhammad’. Lalu kaumnya berkata kepadanya; ‘Kami tidak akan membiarkan kamu memberi nama dengan nama Rasulullah s.a.w.’. Maka lelaki ini pun pergi menemui Nabi s.a.w. dengan membawa anaknya di atas belakangnya. Ia bertanya Nabi; “Ya Rasulullah, dilahirkan untukku anak dan aku menamakannya ‘Muhammad’, lalu kaumku berkata kepadaku; ‘Kami tidak akan membiar kamu menamakan dengan nama Rasulullah s.a.w.”. Lantas Nabi menjawab;

تَسَمَّوْا بِاسْمِي، وَلاَ تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي، فَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ، أَقْسِمُ بَيْنَكُمْ
“Berilah nama dengan namaku, akan tetapi jangan memanggil dengan panggilanku (yakni Abul-Qasim) kerana sesungguhnya aku adalah Qasim (pembahagi) yang membahagi di antara kamu”. (Riwayat Imam Muslim)

Sebagaimana sedia dimaklumi bahawa, Nabi s.a.w. telah menamakan salah seorang anaknya dengan nama Ibrahim.

d) Menurut mazhab Syafi’ie, harus memberi nama dengan nama-nama Malaikat. Namun demikian, sebahagian ulama’ memakruhkannya. Berkata Qadhi ‘Iyadh; “Telah memakruhkan sebahagian ulama’ memberi nama dengan nama-nama Malaikat dan ia adalah pandangan al-Harith bin Miskin. Imam Malik memakruhkan memberi nama dengan Jibril dan Ya-sin”.[10]

e) Dimakruhkan memberi nama dengan nama-nama yang buruk seperti Harb, Murrah, Kalb, ‘Ashiyah, Syaitan, Dzalim, Himar dan sebagainya.

Begitu juga, dimakruhkan memberi nama dengan nama-nama yang dijadikan tengok nasib dengan penafiannya pada adat/kebiasaan seperti nama-nama yang terkandung dalam sabda Nabi s.a.w.;

لاَ تُسَمِّيَنَّ غُلاَمَكَ يَسَاراً، وَلاَ رَبَاحاً، وَلاَ نَجِيحاً، وَلاَ أَفْلَحَ، فَإِنَّكَ تَقُولُ: أَثَمَّ هُوَ؟ فَلاَ يَكُونُ، فَيَقُولُ: لاَ". إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ، فَلاَ تَزِيدُنَّ عَلَيَّ.
“Janganlah kamu menamakan anak kamu Yasar (mudah), Rabah (untung), Najih (berjaya) dan Aflah (berjaya). Kerana sesungguhnya jika kamu bertanya seseorang; Apakah ada di sana (Yasar[11], Rabah dan sebagainya itu)? Lalu ia menjawab; ‘Tidak ada’. Sesungguhnya nama-nama itu hanya empat. Maka jangan kamu menambah ke atas apa yang aku sebutkan itu[12]”. (Riwayat Imam Muslim dari Samurah bin Jundab r.a.)

Menurut Imam Nawawi, faktor dimakruhkan nama-nama tersebut (dalam hadis) ialah; buruk/jeliknya jawapan dan juga nama-nama tersebut ada kemungkinan menjatuhkan sebahagian orang ke dalam suatu bentuk perbuatan menengok untung/nasib”.[13] (Contohnya; apabila ditanya; ‘Adakah di sana ada Rabah (yang bermaksud; untung)?’, lalu dijawab; ‘Ada’. Apabila orang yang suka menengok/menilai nasib dengan suatu sempena atau kejadian mendengar jawapan ini, maka ia akan membuat andaian bahawa hari tersebut adalah hari untung).

f) Diharamkan memberi nama dengan nama “Malikul-Amlak” yang bermaksud; ‘Raja bagi segala raja’.

Sabda Rasulullah s.a.w.;

إنَّ أخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ تَعالى رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأمْلاكِ
“Sesungguhnya sehina-hina/seburuk-buruk nama di sisi Allah ialah seorang lelaki yang bernama Malikul-Amlak”. (Riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)

Dalam riwayat yang lain, baginda bersabda;

أَغْيَظُ رَجُلٍ عَلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَخْبَثُهُ، رَجُلٌ كَانَ يُسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ، لاَ مَلِكَ إِلاَّ اللَّهُ
“Lelaki yang paling dimukai oleh Allah pada hari kiamat dan paling hina ialah lelaki yang diberi nama Malikul-Amlak (kerana hakikatnya) tiada raja melainkan Allah”. (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Berkata Imam Nawawi; berkata para ulama’; memberi nama dengan nama ini (yakni Malikul-Amlak) adalah haram.[14]

g) Hendaklah dijauhi dari nama-nama yang menunjukkan pengabdian/penghambaan kepada selain Allah seperti Abdul-Kaabah (Hamba Kaabah), Abdun-Nabi (Hamba Nabi), Abdul-‘Uzza (Hamba Tuhan ‘Uzza) dan sebagainya. Menurut Syeikh Abdullah Nasih ‘Ulwan; memberi nama dengan nama-nama ini hukumnya adalah haram dengan sepakat para ulama’.[15]

h) Begitu juga, hendaklah dijauhi dari memberi nama dengan nama-nama yang menggambarkan hilang/leburnya jati-diri (sebagai seorang muslim), meniru-niru (nama orang bukan Islam) dan nama-nama yang menzahirkan cinta-berahi seperti nama Huyam (gila berahi), Susan dan sebagainya.[16]

i) Disunatkan mengubah nama yang buruk atau yang tidak baik kerana Nabi s.a.w. telah melakukannya kepada para sahabat baginda.

Ibnu Umar r.a. menceritakan;

أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- غَيَّرَ اسْمَ عَاصِيَةَ. وَقَالَ: "أَنْتِ جَمِيلَةُ".
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah menukar nama (seorang perempuan bernama) ‘Ashiyah (yang bermaksud; perempuan yang engkar) di mana baginda berkata kepada (perempuan itu); ‘Kamu adalah Jamilah (bermaksud; yang indah)’”. (Riwayat Imam Muslim)

Said bin al-Musayyab menceritakan bahawa bapanya -yang bernama Hazn (bermaksud; susah/sedih)- telah datang kepada Nabi s.a.w., lalu baginda bertanya kepadanya; ‘Apa nama kamu?’. Jawab bapaku; ‘Hazn’. Lalu Rasulullah berkata; ‘Kamu adalah Sahl (yakni Nabi menukar namanya kepada Sahl yang bermaksud; mudah). Namun bapaku berkata; ‘Aku tidak akan menukar nama yang diberikan kepadaku oleh bapaku’. Said berkata; ‘(Dengan kedegilannya itu) maka berterusanlah huzunah (yakni kepayahan/kesedihan) membelenggu keluarga kami selepasnya’”. (Riwayat Imam Bukhari dari Said bin al-Musayyab dari bapanya)

***والله أعلم بالصواب***

Panduan kepada yang bakal menerima cahaya mata - Bhgn 1.

SUNAT-SUNAT KELAHIRAN

1. Melaungkan azan dan iqamah[1]

Disunatkan melaungkan azan dan iqamah kepada bayi sebaik saja dilahirkan iaitu azan ke telinga kirinya dan iqamah ke telinga kanannya, sama ada bayi itu lelaki atau perempuan. Diriwayatkan dari Abi Rafi’ r.a. yang menceritakan;

رأيتُ رسولَ اللّه صلى اللّه عليه وسلم أذّن في أُذن الحسين بن عليّ حينَ ولدتهُ فاطمةُ
“Aku melihat Rasulullah s.a.w. melaungkan azan ke telinga Husain bin Ali r.a. ketika ia dilahirkan oleh Fatimah”. (Riwayat Imam Abu Daud, Tirmizi, al-Hakim dan Ahmad)

Husain bin Ali r.a. juga meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda;

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فأذَّنَ في أُذُنِهِ اليُمْنَى، وأقامَ في أُذُنِهِ اليُسْرَى لَمْ تَضُرّهُ أُمُّ الصّبْيانِ
“Sesiapa dilahirkan untuknya anak, lalu ia melaungkan azan ke telinganya yang kanan dan melaungkan iqamah ke telinganya yang kiri, nescaya tidak akan berupaya memudaratkannya Ummu Shibyan (Ummu Shibyan ialah jin perempuan yang selalu mengganggu anak-anak). (Riwayat Ibnu as-Sunni)

2. Memohon perlindungan Allah untuk anak yang baru dilahirkan

Di antara doa perlindung untuk anak-anak ialah yang berbunyi;

أُعِيذُكَ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطانٍ وَهامَّةٍ، وَمِنْ كُلّ عَيْنٍ لامَّةٍ
Maksudnya: Aku memohon perlingunan untuk kamu dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna dari segala syaitan dan binatang berbisa serta dari setiap sihir ‘ain (sihir dari pandangan mata) yang membawa kejahatan dan penyakit.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. menceritakan; Rasulullah s.a.w. memohon perlindungan untuk kedua-dua cucunya iaitu Hasan dan Husin dengan membaca ….(doa di atas)….Baginda berkata; ‘Sesunggungnya bapa kita Ibrahim a.s. dulunya telah memohon perlindungan dengan (membaca) kalimah tersebut untuk Ismail dan Ishaq a.s.’. (Riwayat Imam al-Bukhari, al-Hakim, Ibnu Majah, at-Tirmizi dan Abu Daud)

Ada di kalangan ulamak menggalakkan kita membaca ayat 36 dari Ali Imran ke telinga kanan bayi yang baru dilahirkan.[2] Iaitu ayat yang berbunyi;

وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“…dan aku melindungi dia dengan peliharaanMu, demikian juga zuriat keturunannya, dari godaan syaitan yang kena rejam (yang dikutuk dan disingkirkan)”. (Ali-Imran; 36)

2. Memberi nama kepada bayi
(Sila baca “Panduan memberi nama anak” dalam laman ini)

3. Melakukan Aqiqah
(Sila baca “Fiqh Aqiqah” dalam laman ini)

4. Mencukur rambut

Disunatkan mencukur kepala bayi -sama ada lelaki atau perempuan- pada hari ketujuh ia dilahirkan iaitu selepas dilakukan aqiqah. Kemudian disunatkan rambut yang dicukur itu ditimbang dan disedekah emas atau perak seberat rambut tersebut. Sunnah ini berdalilkan beberapa hadis yang telah pun disebutkan tadi.[3]

Dan disunatkan melumurkan kepala bayi itu dengan Za’faran setelah dicukur dan dimakruhkan melumurnya dengan darah aqiqah kerana ia adalah perbuatan orang-orang jahiliyah. Diriwayatkan dari Saidatina Aisyah r.a. yang menceritakan;

كان أهل الجاهلية يجعلون قطنة في دم العقيقة ويجعلونها على رأس المولود فأمرهم النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم أن يجعلوا مكان الدم خلوقاً
“Orang-orang pada zaman Jahiliyah (apabila menyembelih aqiqah) mereka mencelup kapas ke dalam darah binatang aqiqah dan meletakkannya (yakni melumurnya) ke kepala bayi yang lahir (setelah dicukur kepalanya). Lalu (selepas datangnya Islam) Nabi s.a.w. mengarahkan supaya mereka menggantikan darah itu dengan khaluq (yakni sejenis wangian/bauan campuran dari za’faran dan bahan-bahan wangian yang lain, warnanya merah bercampur putih)[4]. (Riwayat Imam Ahmad)[5]

5. Bertahnik[6]

Disunatkan mentahnik bayi yang baru dilahirkan sama ada lelaki atau perempuan dengan buah tamar. Tahnik (التحنيك)[7] bermaksud; seseorang mengunyah/memamah buah tamar, lalu memasukkannya ke dalam mulut seorang bayi dengan menggosok-gosokkannya ke langit-langit bayi itu agar dikecap dan ditelan olehnya. Jika tidak terdapat buah tamar, bolehlah diganti dengan makanan lain yang manis. Abu Musa al-Asy’ari r.a. menceritakan;

وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَسَمَّاهُ: إِبْرَاهِيمَ، وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ
“Dilahirkan untukku seorang bayi, lalu aku membawanya kepada Nabi s.a.w., lalu baginda menamakannya Ibrahim dan baginda mentahnikkannya dengan sebiji tamar serta mendoakan untuknya keberkatan”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Hendaklah yang mentahnik itu orang-orang yang terkenal baik dan soleh. Oleh yang demikian, sunat dibawa anak yang baru dilahirkan kepada orang-orang soleh dan bertakwa untuk ditahnik oleh mereka dan supaya mereka mendoakan keberkatan serta kebaikan untuknya. Jika tidak terdapat lelaki, bolehlah dibawa kepada perempuan yang soleh dan bertakwa.[8]

6. Berkhitan

Al-Khitan (الختان) berasal dari kalimah Khatana (ختن) yang bermaksud “memotong”. Al-Khitan bagi lelaki ialah; memotong kulit yang menutupi kepala zakarnya supaya tidak berhimpun kekotoran di situ. Adapun bagi perempuan ialah; memotong sedikit kulit di bahagian paling atas farajnya (yakni yang berada di atas dari lubang masuk zakar) yang kelihatan seperti biji atau balung ayam.[9]

Dalil disyari’atkan khitan ini, antaranya ialah sabda Rasulullah s.a.w. yang berbunyi;

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ -أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ- الْخِتَانُ، وَالاسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الإِبِطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ
“Lima perkara yang merupakan fitrah; berkhatan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan misaim”. (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Hukum Khitan

Dalam mazhab Syafi’ie, hukum berkhitan adalah wajib sama ada ke atas lelaki atau perempuan. Disi mazhab Hanafi, berkhitan hukumnya adalah sunat sahaja bagi kedua-dua lelaki dan perempuan. Imam Ahmad pula berpandangan; ia hanya wajib ke atas lelaki sahaja. Adapu ke atas perempuan, hukumnya hanyalah sunat.[10]

Waktu berkhitan

Waktu berkhitan tidak disyaratkan ketika kecil. Oleh itu harus berkhitan ketika dewasa. Namun demikian, disunatkan para wali mengkhitankan anaknya pada hari ketujuh kelahirannya jika orang yang menjalankan khitan melihat anaknya itu mampu dan tidak sakit. Saidatina Aisyah r.a. menceritakan;

أنه صلى الله عليه وسلم ختن الحسن والحسين يوم السابع من ولادتهما
“Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah mengkhatankan Hasan dan Husin pada hari ketujuh kelahiran mereka berdua”. (Riwayat Imam al-Baihaqi dan al-Hakim)[11]

7. Mengucapkan tahniah sempena kelahiran[12]

Disunatkan kita mengucapkan tahniah kepada seorang bapa yang baru dikurniakan anak oleh Allah. Adapun lafaz tahniah, sebaik-baiknya kita mengamalkan ucapan tahniah yang diajar oleh Saidina Husain r.a., iaitu;

باركَ اللّه لكَ في الموهوب لك، وشكرتَ الواهبَ، وبلغَ أشدَّه ورُزقت برّه.
“Semoga Allah memberkati kamu pada anak yang dikurniakanNya kepada kamu, semoga kamu mensyukuri Tuhan yang maha Pemberi, semoga anak itu akan mencapai umur kuat/matangnya dan semoga kamu akan diberi rezki kebaikannya”.

Dan bapa/penjaga yang menerima ucapan tahniah atas kelahiran bayinya itu disunatkan pula menjawab;

باركَ اللّه لك، وبارَك عليك، وجزاكَ اللّه خيراً، ورزقك اللّه مثلَه، أو أجزلَ اللّه ثوابَك
“Semoga Allah memberi keberkatan untuk kamu dan melimpahkan keberkatan ke atas kamu, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, semoga Allah memberi rezki kepadamu seumpamanya atau semoga Allah melimpahi pahalaNya kepadamu”.

Atau ucapan balas yang seumpamanya.

***والله أعلم بالصواب***

MALAM 27


Kebanyakakan para ulamak menyatakan bahawa malam ke 27 merupakan malam Lailatul Qadr. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, daripada Ibnu Umar R.A. berkata, bahawa Baginda s.a.w bersabda:"Sesiapa yang mencari malam Lailatul Qadr, maka hendaklah mencarinya pada malam ke 27".
Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmizi mengeluarkan hadis yang diriwayatkan daripada Ubai Bin Kaab bahawa beliau berkata: "Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia, sesungguhnya ianya di dalam bulan Ramadhan, dan demi Allah sesungguhnya aku mengetahui bilakah ianya berlaku. Ianya merupakan malam yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk menghidupkannya, ianya adalah malam ke 27, dan tandanya matahari akan keluar keesokkan harinya berwarna putih tidak bercahaya.

Fadhilat menghidupkan malam ini dengan penuh kesungguhan dan keimanan ialah diampunkan segala dosa yang terdahulu sehingga putih bersih persis bayi yang dilahirkan ibunya.

Kerana itulah kita disuruh memohon keampunan kepada Allah pada malam itu. Nilai keampunan Allah amatlah besar sehingga ianya mengatasi permintaan-permintaan lain.Ya Allah! engkau maha pengampun! Sukakan pengampunan, maka ampunlah kami!

Selasa, 15 September 2009

Membiasakan Anak 'HIDUP BERSAMA' Al-Quran

Setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya menjadi anak yang soleh dan solehah. Anak soleh-solehah merupakan harta yang paling berharga bagi orangtua. Untuk mendapatkan semua itu, tentu harus ada kesungguhan yang tinggi dari orangtua dalam mendidik anak. Salah satu yang wajib diajarkan kepada anak adalah segala hal tentang al-Quran kerana ia adalah pedoman hidup manusia.

Rasulullah SAW pernah bersabda (yang ertinya):
Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan membaca al-Quran kerana orang-orang yang memelihara al-Quran itu berada dalam lindungan singahsana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-Nya; mereka beserta para nabi-Nya dan orang-orang suci. (HR ath-Thabrani).


Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal soleh bahawa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS al-Isra’ [17]: 9).


Bila al-Quran sebaiknya diajarkan pada anak? Tentu seawal mungkin. Semakin awal semakin baik. Akan sangat bagus jika sejak anak dalam kandungan seolah-olah calon anak kita itu sudah terbiasa 'hidup bersama' al-Quran; yakni ketika si ibu yang mengandungnya, rajin membaca al-Quran.





7M Agar Anak Selalu Hidup Bersama al-Quran

1. Mengenalkan.
Saat yang paling tepat mengenalkan al-Quran adalah ketika anak sudah mulai tertarik dengan buku. Sayang, banyak orangtua yang lebih suka menyimpan al-Quran di rak almari paling atas. Sesekali perlihatkanlah al-Quran kepada anak sebelum mereka mengenal buku-buku lain, apalagi buku dengan gambar-gambar yang lebih menarik. Mengenalkan al-Quran juga boleh dilakukan dengan mengenalkan terlebih dulu huruf-huruf hijaiyah; bukan mengajarinya membaca, tetapi sekadar memperlihatkannya sebelum anak mengenal A, B, C, D. Tempelkan gambar-gambar tersebut di tempat yang sering dilihat anak; lengkapi dengan gambar dan warna yang menarik. Dengan sering melihat, anak akan terpancing untuk bertanya lebih lanjut. Saat itulah kita boleh memperkenalkan huruf-huruf al-Quran.

2. Memperdengarkan.
Memperdengarkan ayat-ayat al-Quran boleh dilakukan secara langsung atau dengan memainkan kaset atau CD. Kalau ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan muzik klasik pada janin dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan, insyaAllah memperdengarkan al-Quran akan jauh lebih baik pengaruhnya bagi bayi. Apalagi jika ibunya yang membacanya sendiri. Ketika membaca al-Quran, suasana hati dan fikiran ibu akan menjadi lebih khusyuk dan tenang. Kondisi seperti ini akan sangat membantu perkembangan psikologi janin yang ada dalam kandungan. Ini kerana, secara teori kondisi psikologi ibu tentu akan sangat berpengaruh pada perkembangan bayi, khususnya perkembangan psikologinya. Kondisi tertekan pada ibu tentu akan berpengaruh buruk pada kandungannya. Memperdengarkan al-Quran boleh dilakukan bila-bila sahaja dan di mana sahaja; juga tidak mengenal batas usia anak. Untuk anak-anak yang belum boleh berbicara, insyaAllah lantunan ayat al-Quran itu akan terakam dalam memorinya. Jangan pelik kalau tiba-tiba si kecil lancar melafazkan surah al-Fatihah, misalnya, begitu dia boleh berbicara. Untuk anak yang lebih besar, memperdengarkan ayat-ayat al-Quran (surah-surah pendek) kepadanya terbukti memudahkan si anak menghafalkannya.

3. Menghafalkan.
Menghafalkan al-Quran boleh dimulai sejak anak lancar berbicara. Mulailah dengan surah atau ayat yang pendek atau potongan ayat (misalnya fastabiq al-khayrât, hudan li an-nâs, birr al-walidayn, dan sebagainya). Menghafal boleh dilakukan dengan cara seringkali membacakan ayat-ayat tersebut kepada anak. Jadi latihlah anak untuk menirunya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai anak hafal di luar kepala. Masa kanak-kanak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Orangtua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak. Supaya anak lebih mudah mengingat, ayat yang sedang dihafal anak boleh juga sering dibaca ketika ayah menjadi imam atau ketika naik kereta dalam perjalanan. Disamping anak tidak mudah lupa, hal itu juga sebagai usaha membiasakan diri untuk mengisi kesibukan dengan amalan yang bermanfaat.

Nabi SAW bersabda:
Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya hafalan al-Quran itu lebih cepat lepasnya daripada seekor unta pada tambatannya. (HR al-Bukhari dan Muslim).


4. Membaca.
Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitab Allah maka dia akan mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat.


Aku tidak mengatakan bahawa alif-lam-mim adalah satu huruf. Akan tetapi, alif adalah satu huruf, lam satu huruf, dan mim juga satu huruf. (HR at-Tirmidzi).


Sungguh luar biasa pahala dan kebaikan yang dijanjikan kepada siapa saja yang biasa membaca al-Quran. Bimbing dan doronglah anak agar terbiasa membaca al-Quran setiap hari walau cuma beberapa ayat. Orangtua penting memberikan contoh. Jadikanlah membaca al-Quran, terutamanya pada pagi hari usai solat subuh atau usai solat maghrib, sebagai kegiatan rutin dalam keluarga. Ajaklah anak-anak yang belum boleh membaca untuk bersama-sama mendengar abang-kakaknya yang sedang membaca al-Quran. Orangtua mempunyai kewajipan untuk mengajarkan kaedah-kaedah dan adab membaca al-Quran. Untuk boleh membaca al-Quran, termasuk mengetahui kaedah-kaedahnya, sekarang ini tidaklah sulit. Telah banyak metode yang ditawarkan untuk boleh mudah dan cepat membaca. Ada metode Iqra, Qiroati dan sebagainya. Metode-metode itu telah terbukti memudahkan ribuan anak-anak bahkan orangtua untuk mahir membaca al-Quran. Alangkah baiknya membaca al-Quran ini dilakukan secara bersama-sama oleh anak-anak di bawah bimbingan orangtua. Ketika seorang anak membaca, yang lain menyemaknya. Jika anak salah membaca, yang lain boleh membetulkan. Dengan cara itu, rumah akan selalu dipenuhi dengan bacaan al-Quran sehingga berkat.

5. Menulis.
Belajar menulis akan mempermudah anak dalam belajar membaca al-Quran. Ajarkan kepada anak kata-kata tertentu yang mempunyai makna. Dengan begitu, selain anak boleh menulis, sekaligus anak belajar bahasa Arab. Mulailah dengan kata-kata pendek. Misalnya, untuk mengenalkan tiga kata alif, ba, dan dal anak diminta menulis a, ba da (tolong tuliskan Arabnya, ya: a-ba-da) ertinya diam; ba-da-a (yang ini juga) ertinya mulai; dan sebagainya. Sesekali di rumah, cuba adakan lumba menulis ayat al-Quran. Berilah hadiah untuk anak yang paling kemas menulis. Jika anak memiliki kemampuan yang lebih dalam menulis huruf al-Quran, mereka boleh diajari lebih lanjut dengan mempelajari seni kaligrafi. Rangkaian huruf menjadi sukukata yang mengandungi erti bertujuan untuk melatih anak dalam memperkaya kosakata, di samping memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya tentang setiap kata yang diucapkan serta mengembangkan cita rasa seni mereka. Jadi, tidak hanya bertujuan mengenalkan huruf al-Quran semata-mata.

6. Mengkaji.
Ajaklah anak mula mempelajari isi al-Quran. Ayah boleh memimpinnya setelah solat maghrib atau subuh. Paling tidak, seminggu sekali pelajaran sekeluarga ini dilakukan. Tajuk yang diketengahkan boleh jadi tajuk-tajuk yang ingin disampaikan berkaitan dengan perkembangan perilaku anak selama satu minggu atau beberapa hari. Kajian bersama, dengan merujuk pada satu atau dua ayat al-Quran ini, sekaligus dapat menjadi sarana tawsiyah untuk seluruh anggota keluarga. Pada waktu yang sama, tajuk yang akan dikaji boleh diserahkan kepada anak-anak. Adakalanya anak diminta untuk memimpin kajian. Orangtua boleh memberi arahan atau pembetulan jika ada hal-hal yang kurang tepat. Cara ini sekaligus untuk melatih keberanian anak menyampaikan isi al-Quran.

7. Mengamalkan dan memperjuangkan.
Al-Quran tentu bukan hanya untuk dibaca, dihafal dan dikaji. Justeru yang paling penting adalah diamalkan seluruh isinya dan diperjuangkan agar benar-benar dapat menyinari kehidupan manusia. Sampaikan kepada anak tentang kewajiban mengamalkan serta memperjuangkan al-Quran dan pahala yang akan diraihnya. InsyaAllah, hal ini akan memotivasikan anak. Kepada anak juga boleh diceritakan tentang bagaimana para Sahabat dulu yang sangat teguh berpegang pada al-Quran; ceritakan pula bagaimana mereka bersama Rasulullah sepanjang hidupnya berjuang agar al-Quran tegak dalam kehidupan.

Sumber: IluvIslam.com

Rabu, 9 September 2009

Tanda-tanda Taubat Diterima ALLAH



Seorang ahli hikmah ditanya mengenai taubat. Bagaimanakah kita hendak mengetahui taubat kita telah diterima Allah atau tidak? Maka jawabnya, ini adalah urusan Allah,kita tidak berupaya menentukannya,...tetapi kita boleh melihat pada tanda-tandanya iaitu:

1. Bagi hamba-hamba yang bertaubat itu bila dia merasakan di dalam dirinya masih ada dosa-dosa yang masih belum terhakis.

2. Hatinya lebih tenteram dan suka mendekati orang-orang yang solih daripada mendekati mereka-mereka yang fasik.

3. Bila dia merasakan di dalam dirinya telah hilang perasaan gembira, sebaliknya sentiasa datang perasaan sedih kerana takutkan azab Allah.

4. Bila dia melihat pada dirinya yang sentiasa sibuk dengan menunaikan kewajipan terhadap Allah sebaliknya sedikit pun dia tidak sibuk meguruskan rezekinya yang telah dijamin oleh Allah.

5. Sungguhpun sedikit rezeki yang dia dapat di dunia ini namun ia tetap melihatnya banyak, tetapi walaupun banyak amalan untuk akhirat yang telah dikerjakannya namun ia tetap merasa sedikit.

6. Bila dia melihat pada dirinya yang sentiasa menjaga lidah dan ucapannya, sering bertafakur dan selalu berada di dalam keadaan sedih dan menyesal.


Sama-samalah kita memperbanyak lafaz istighfar memohon keampunan kepada Allah yang Maha Pengampun. Semoga dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkatan ini, kita semua akan tergolong di dalam golongan mereka yang mendapat maghfirah Allah ta'ala.Insya Allah.

Sumber: I Luv Islam.com

Mari Memaksimumkan Bonus Ramadhan




Bagi memastikan sempurnanya puasa serta mampu memaksimakan pahala dan keuntungan dari Ramadhan, amalan yang berdasarkan nas yang kuat berikut perlu dilakukan:-

1) Berniat dalam hati untuk berpuasa di malam hari.

2) Bersahur di akhir malam (yang terbaik adalah jaraknya dengan azan subuh selama bacaan 50 ayat al-Quran secara sederhana).

Nabi SAW bersabda :

"Perbezaan di antara puasa kami (umat Islam) dan puasa ahli kitab adalah makan sahur." (Riwayat Muslim)

"Bersahurlah kamu, kerana pada sahur itu ada barakahnya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Baginda SAW juga menyebutkan bahawa malaikat sentiasa meminta ampun bagi orang yang bersahur. (Riwayat Ahmad)

Selain makan tatkala itu adalah amat digalakkan kita untuk mendirikan Solat Sunat Tahajjud, Solat Sunat Witir dan beristifghar dan lain-lain amalan sebelum menunaikan Solat Subuh berjemaah (bagi lelaki). Adalah amat tidak digalakkan bagi seseorang yang bersahur dengan hanya makan di sekitar jam 12 malam sebelum tidur. Kebanyakan individu yang melakukan amalan ini sebenarnya amat merasa berat dan malas untuk bangun di tengah malam. Ia pada hakikatnya adalah tidak menepati sunnah yang diajarkan oleh baginda SAW.

3) Memperbanyakkan bacaan Al-Quran dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

Terdapat ramai ulama silam menyebut tentang kepentingan mendahulukan membaca Al-Quran di atas amalan sunat seperti menelaah kitab, membaca hadis dan lain-lain. Ia adalah salah satu amalan yang paling diambil berat oleh Nabi SAW ketika baginda membacanya bersama Malaikat Jibrail a.s. Hal ini disebut di dalam hadis al-Bukhari.

4) Memperbanyakkan doa semasa berpuasa.

Sepanjang waktu kita sedang menjalani ibadah puasa, ia adalah sentiasa merupakan waktu yang sesuai dan maqbul untuk kita berdoa, sebagaimana di tegaskan oleh Nabi SAW :-
Ertinya : "Tiga yang menjadi hak Allah untuk tidak menolak doa mereka, orang berpuasa sehingga berbuka, orang yang dizalimi sehingga dibantu, dan orang bermusafir sehinggalah ia pulang" (Riwayat Al-Bazaar)

Sebuah hadis lain yang hampir sama maksudnya menyebutkan :-
Ertinya : “Tiga yang tidak ditolak doa mereka, orang berpuasa sehingga berbuka, pemerintah yang adil dan doa orang yang dizalimi" (Riwayat At-Tirmizi)

5) Memperbanyakan doa ketika hampir berbuka.

Ini kerana tahap maqbul tatkala itu semakin hebat berdasarkan hadis Nabi SAW :-
Ertinya : "Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu tatkala waktu berbukanya,adalah waktu doa yang tidak ditolak." (Riwayat Ibn Majah)

6) Menyegerakan berbuka puasa selepas pasti masuk waktu maghrib.

Berdasarkan hadis Nabi SAW :-
Ertinya : "Sentiasalah umatku berada dalam kebaikan sepanjang kamu menyegerakan berbuka" (Riwayat Al-Bukhari)

Berbuka juga perlu didahulukan sebelum menunaikan Solat Maghrib, malah jika pada hari tersebut tahap kelaparan kita agak luar biasa, lebih baik kita berbuka dan makan sekadar perlu agar kelaparan tidak mengganggu Solat Magrhib kita. Disebutkan bahawa tidaklah Nabi SAW menunaikan Solat Maghrib kecuali setelah berbuka walaupun hanya dengan segelas air.
(Abu Ya'la dan al-Bazzar)

7) Adalah digalakkan pula untuk berbuka dengan beberapa biji rutab (kurma basah) atau tamar (kurma kering) sebagai mengikuti sunnah, dan jika tiada keduanya mulakan dengan meneguk air. Ertinya : “Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah (rutab) sebelum solat dan sekiranya tiada rutab, maka tamar dan jika tiada, baginda meminum beberapa teguk air".

8) Amat disunatkan untuk sedekah harta bagi mempersiapkan juadah berbuka untuk orang ramai terutamanya orang miskin.

Nabi SAW bersabda :-
Ertinya : “Barangsiapa yang memberikan juadah berbuka buat orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa kurang sedikit pun" (Riwayat At-Tirmidzi) Disebut dalam sebuah hadis lain, Ertinya : “Barangsiapa yang mengenyangkan seorang yang berpuasa (berbuka), Allah akan memberinya minum dari telagaku ini dengan satu minuman yang tidak akan haus sehinggalah ia memasuki syurga" (Riwayat Al-Baihaqi)

9) Menunaikan Solat Sunat Terawih pada malam hari secara berjemaah buat lelaki dan wanita atau boleh juga dilakukan secara bersendirian.

Ia berdasarkan hadis riwayat An-Nasaie yang sohih. Boleh juga untuk menunaikannya separuh di masjid dan separuh lagi di rumah, terutamanya bagi sesiapa yang ingin melengkapkan kepada 20 rakaat.

10) Memperbanyakkan bersiwak (iaitu menggunakan kayu sugi tanpa air dan ubat gigi). Ia juga sohih dari Nabi SAW dari Riwayat al-Bukhari.

11) Amaran bagi berbuka di siang Ramadhan tanpa uzur.

Selain itu, Nabi juga menyebut bahawa : "Barangsiapa yang berbuka tanpa uzur pada Bulan Ramadhan, maka ia tidak mampu menggantikan kerugian dari puasa yang ditinggalkan itu, walaupun ia berpuasa selama-lamanya" (Riwayat Abu Daud, Ibn Majah)



Sumber: Artikel Ust Zaharudin Abd Rahman